Rektor Institut Pemerintahan Dalam Negeri
Hadi Prabowo
Melakoni Setiap Fase Hidupnya dengan Optimistis

Jiwa kepemimpinan sepertinya sudah melekat pada diri Hadi Prabowo sejak kecil. Semasa sekolah di SD di Grobogan, juga ketika SMP dan SMA di Klaten, Jawa Tengah, ia selalu meraih prestasi. Berkat prestasinya itu, Hadi yang gemar berorganisasi tak kesulitan untuk meraih posisi Ketua OSIS.

Dunia organisasi begitu menarik minatnya, karena melalui organisasi ia bisa menjalin pertemanan lebih luas, menggembleng jiwa kepemimpinannya dan kemampuan manajerialnya, juga mengenal berbagai karakter orang. Tampaknya Hadi tahu betul bahwa selain menguasai ilmu, kemampuan berorganisasi juga penting sebagai landasan untuk mengarungi dunia kerja nantinya.    

Selepas SMA pada tahun 1979 Hadi diterima di FISIP Universitas Diponegoro. Di kampus Undip dia pun aktif di berbagai organisasi, mulai dari Senat, BPM FISIP, juga HMI. Cukup banyak yang dia upayakan untuk memperjuangkan aspirasi sesama mahasiswa, salah satunya terkait biaya kuliah. Bisa melakukan sesuatu untuk sesama dan juga kampusnya memberikan kepuasan batin baginya.

Meski sibuk di beberapa organisasi, prestasi akademiknya cukup memuaskan. Hadi selalu memacu diri untuk membuktikan bisa mendapatkan nilai A setiap ujian. “Kalau ujian saya maunya duduk di depan, sampai dibilang kemlinthi, saya memang kepedean,” aku pria kelahiran Klaten, 3 April 1960 ini seraya tergelak mengenang saat kuliah.      

Masa-masa kuliah di Undip diakuinya menjadi masa yang paling indah. Semua berjalan sesuai jalur yang ia harapkan. Dalam bergaul ia juga tidak membatasi hanya pada satu angkatan, tetapi dari berbagai angkatan. Saat memilih tempat kos juga ia pertimbangkan aspek sosialnya. Hal ini membuatnya memiliki jejaring yang luas, yang nantinya sangat bermanfaat dalam menapaki karier.

Lulus kuliah tahun 1985 Hadi langsung bekerja di Pemprov Jawa Tengah. Tahun 1986 dia sudah berstatus pegawai negeri (ASN) di Pembangunan Daerah Pemprov Jateng. Perjalanan karier Hadi terbilang cepat melesat. Dia selalu mendapatkan promosi jabatan dari mulai Kasubag, Kepala Bagian, Kepala Biro, hingga menjadi Sekretaris Daerah Pemprov Jateng pada tahun 2007. Hadi Prabowo yang kerap disapa HP ini kala itu menjadi Sekda termuda di Indonesia, di usia 47 tahun. Diakuinya bahwa kemampuan berkomunikasi, bersosialisasi, dan jiwa leadership-nya yang terasah dalam kegiatan berorganisasi, terbukti menunjang kelancaran kariernya.

Selama berkarier tentu saja Hadi memiliki pimpinan yang berganti-ganti, namun ia tak pernah khawatir atau takut akan posisinya. Itu karena ia selalu menunjukkan kinerja terbaik dan menjalin hubungan baik dengan siapa pun. “Selain itu saya gak pernah pesimistis, ditempatkan di mana saja harus bisa mewarnai dan melakukan perubahan secara lebih cepat, namun sesuai normatif,” jelas suami dari Paripurnaning Hayu (alumnus Administrasi Negara Undip) ini.  Yang juga penting, tambahnya, di mana pun kita bekerja, harus peka dan responsif terhadap lingkungan.

Selesai bertugas di Pemprov Jateng, Hadi selanjutnya dipercaya menjadi Staf Ahli Menteri Dalam Negeri, lalu Deputi I BNPP dan Sekjen Kemendagri. Dia kemudian diberi tugas sebagai Penjabat Gubernur Kalimantan Tengah (2015 – 2016), Pj. Gubernur Sumatera Selatan, dan mulai Maret 2020 menjabat Rektor Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).

Apa pun tugas yang diberikan kepadanya, Hadi menerimanya sebagai amanah. Dengan kerja cerdas dan ikhlas dia pun yakin bisa melaksanakan tanggung jawab secara optimal. Atas segala pengabdiannya itu tak heran jika Hadi mendapat ganjaran dari pemerintah berupa tanda jasa Bintang Jasa Nararya, Satyalancana Karya Satya, dan Satyalancana Pembangunan Bidang Koperasi.   

Pria berkumis yang tampak awet muda ini mengaku tak punya hobi khusus. Dia hanya berusaha menikmati hidup dengan cara kumpul-kumpul, nyanyi-nyanyi, dan sempat tergabung dalam komunitas otomotif. Soal makanan dia mengaku menggemari beragam makanan. Hanya saja, sebagai orang Jawa, dia paling suka sayur lodeh dan pecel.

Mungkin karena gemar makan sayur Hadi tampak awet muda. “Orang melihat saya awet muda karena saya enjoy, selalu happy, dan saya tidak pernah ada dendam. Saya habis marah-marah ya selesai,” tutur ayah satu putri yang bekerja di sebuah bank pemerintah di Semarang ini.

Di usia 62 tahun ini Hadi merasa Tuhan sudah memberikan kepercayaan sedemikian rupa, dan dia hanya tinggal melakoninya. “Saya tidak perlu mikir yang lain. Kalau nanti diberi tanggung jawab yang lain ya dijalani saja,” tuturnya bijak.